Tuesday, February 5, 2013

Sejarah Fotografi di Indonesia

Tahun 1869, ahli ilmu alam dan geografi  yang termasyhur, F.W Junghuhn, membawa serta peralatan fotografi yang lengkap ke Indonesia yang saat itu dikenal dengan Hindia Belanda. Peralatan itu didatangkan langsung dari Paris, Prancis. Hal inilah yang, di kemudian hari, membuat Junghuhn digadang-gadang sebagai perintis fotografi di Bumi Nusantara.

Vans Kinsbergen, seniman asal Belgia, saat itu juga sudah mempublikasikan foto-foto pertama tentang candi-candi di Jawa. Selama di Jawa antara 1862 sampai 1873, Kinsbergen tinggal di Yogyakarta. Di sana dia memperkenalkan seni baru itu kepada seorang Jawa yang baru saja dibaptis. Namanya Kassian Cephas. Cephas dengan demikian menjadi orang pribumi pertama yang bersentuhan sekaligus ikut mengembangkan seni fotografi di Indonesia. Totalitasnya di bidang ini menghasilkan sejumlah besar klise. Sejak tahun 1891, ia bahkan menjadi “juru potret resmi” Sultan Mataram masa itu.

Sepenggal catatan soal mula perkembangan seni fotografi di Bumi Nusantara itu dicatat oleh sejarahwan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya. Menariknya, Lombard memasukkan pula berbagai tanggapan dari kalangan Bumiputera yang beragam. Meski memasuki abad ke-20, kata Lombard, teknik fotografi menyebar luas dengan cepat, tapi gerakan-gerakan muslim segera menyatakan keberatannya. Muhammadiyah, misalnya, memutuskan untuk menangguhkan penggunaan fotografi, meski dengan syarat-syarat tertentu. Organisasi yang mewakili kelompok Islam puritan ini juga melarang anggotanya memajang potret pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Adapun kelompok Nahdlatul Ulama, yang lebih tradisionalis, memandang bahwa “memotret, mencetak, dan mencuci negatif (film) merupakan kegiatan yang tidak bisa dilepaskan satu sama lain sehingga harus secara tegas dianggap haram”.

Sementara di luar dua kelompok itu, keputusan-keputusan tersebut tidak begitu berdampak, dan penggunaan fotografi terus berkembang. Uraian Lombard menunjukkan dengan jitu bagaimana kemampuan potret membangkitkan citra. Ia, misalnya, mencatat, sejak masa awal Republik, gambar presiden menjadi lambang kemerdekaan (dan kesetiaan). Gambar itu dapat dijumpai tergantung di mana saja, baik di tempat umum ataupun di banyak rumah. Pada prangko dan uang pun demikian. Ada juga gambar Jenderal Soedirman diterakan di atas uang. Hal seperti ini bahkan berlangsung hingga kini ketika alat fotografi digital yang lebih canggih sudah menjadi bagian dari konsumsi dan kegemaran orang banyak akan citra.

Demikianlah, kebudayaan gambar (visual culture) yang dibawa seni fotografi turut membangkitkan kesadaran kaum bumiputra akan citra.

No comments:

Post a Comment